KEBIJAKSANAAN
>> Rabu, 03 November 2010
Sharing experience…03/Try /MKSJ/2010
KEBIJAKSANAAN
Saya merengek untuk dibelikan sandala yang baru. Padahal sandal saya masih cukup baik untuk dipakai. Ketika Mama tidak mendengar dan memenuhi rengekanku, saya marah dan pergi dari rumah. Ini kebiasaan saya ketika itu, kalau sedang marah saya memutuskan untuk meninggalkan rumah, sekedar untuk menghilangkan atau meredahkan amarahku. Saat itu saya memutuskan untuk pergi ke Kefamenanu, sekitar 32 Km dari Kiupukan (kampung asalku).
Saya duduk di terminal Kefa, memperhatikan orang-orang yang lalu lalang, para kondektur yang sibuk mencari penumpang, para supir angkot yang duduk bergerombol sambil sharing, menyaksikan kendaraan yang keluar masuk ke terminal itu, dan berbagai hal menarik yang memang menarik untuk dilihat.
Di antara semua yang sempat tertangkap ‘radar’ retinaku, ada seseorang yang menarik perhatianku. Seorang penjual koran, majalah dan teka-teki silang (TTS). Seorang anak, mungkin berusia 13 tahun, dia berjuang melawan kerasnya kehidupan ini. Walaupun kakinya cuma satu, ia tak putus asa menghadapi kehidupan yang begitu keras ini, yang penuh dengan persaingan—kalau boleh mengutip Thomas Hobbes yang menggambarkan kerasnya kehidupan ini dengan suatu frasa yang begitu singkat namun penuh makna, “Homo homini lupus” manusia adalah serigala bagi manusia yang lain. Mungkin anak kecil itu tidak tahu apa yang diungkapkan oleh Thomas Hobbes—sang filsuf itu. Namun yang jalas ia mengalami bahwa kehidupan ini memang berat, apalagi ia cacat, kakinya cuma satu.
Kali ini pandanganku sedikit menyelidiki. Kuperhatikan kaki kecil itu, kaki kirinya memakai sebuah sandal New Era yang sudah tipis, bahkan bagian tumitnya sudah berlubang. Sementara kaki kanannya hanya sebatas betis. Kira-kira tiga sentimeter dari tempurung lututnya. Untuk bisa berjalan, tangan kananya menjepit sebuah tongkat yang dijepit pada ketiaknya.
Saya terus memerhatikan anak itu. Ia mendekati setiap orang yang duduk di terminal itu sambil menawarkan koran, majalah dan TTS yang ia jual. Hal yang begitu menarik untuk diperhatikan adalah, ia selalu tersenyum kendati terkadang koran yang ia tawarkan tidak ditanggapi.
Pikiranku kembali menampilkan kisah tiga jam lalu. Permintaanku untuk dibelikan sandal baru, hingga aku memutuskan untuk sedikit meredahkan diri dengan pergi dari rumah, dan kini duduk di terminal ini. Aku menundukkan kepala menatap sandal yang kupakai, sebuah sandal Carvil, sandal favorit anak seminari Lalian. Sandal carvil cokelat yang walaupun sudah tiga tahun namun masih kaut dan masih bagus. Lalu…kenapa aku harus marah dan pergi dari rumah hanya karena Mama tidak mau membeli sandal baru yang aku inginkan itu. Sementara anak ini…kakinya tidak utuh, cuma satu, sandal New Era yang ia pakaipun sudah begitu tipis dan berlubang, dia tetap senang dan terus berjuang dengan segala kekurangannya itu.
Boleh dibilang aku lebih baik dari dia. Lalu kenapa aku harus banyak menuntut. Mungkin saja Mama tidak mau menuruti permintaanku karena tahu bahwa itu adalah kebutuhan yang dibuat-buat, yang diciptakan saat melihat barang tersebut. Padahal sesungguhnya tidak begitu dibutuhkan dan tidak mendesak.
Akhirnya aku putuskan untuk pulang ke rumah. Dengan mikrolet PURNAMA aku tinggalkan terminal Kefamenanu dan pulang ke rumah…Kiupukan. Mukaku kembali cerah. Rasa kecewa karena Mama menolak permintaanku terganti sudah, suatu pikiran yang lebih posetif tentang penolakan itu telah membuyarkan marah dan kesalku, juga wajahku yang sempat muram. Dalam hati aku berterimakasih kepada teman penjual koran. ‘terima kasih teman penjual koran, kamu tidak tau kalau apa adanya kamu telah membantu aku berdamai dengan masalah yang kuhadapi—berdamai dengan ibuku.
Inilah sebuah goresan pengalaman akhir Mei tujuh tahun lalu. Saat itu saya tidak sempat berpikir apakah tindakan saya ini bijaksana atau tidak.
Sekarang…saat ini…enam tahun kemudian…saat merenungkan pengalaman ini, saya mau katakan bahwa bagi saya kebijaksanaan adalah ketika saya mengambil keputusan untuk kembali ke rumah, setelah saya marah, pergi dari rumah, dan bertemu dengan penjual koran itu.
Kebijaksanaan adalah neraca yang membuat saya menimbang-nimbang keputusan yang telah saya ambil setelah berpapasan dengan suatu kenyataan yang bertolakbelakang dari apa yang saya alami dan juga membawa konsekoensi yang berlawanan dari apa yang terjadi dengan saya, yang membantu saya kembali berpikir baik-buruk; benar-salah; terhadap keputusan yang telah saya ambil dan kembali melihat kebenaran lain dari kenyataan yang saya lihat.
Untuk menilai apakah sebuah tindakan itu bijaksana atau tidak sangatlah sulit. Sebab banyak sengkarut yang menyertainya yakni: tingkat pendidikan, budaya, ajaran agama, faktor usia, dan situasi yang kita hadapi.
Tentu saya berpikir bahwa tindakan saya itu adalah bijaksana tapi bagi orang lain belum tentu. Tapi yang jelas, jangan malu untuk mengakui kesalahan dan terbukalah terhadap setiap kenyataan dan pengalaman yang membawa segudang pelajaran bila kita renungkan.
Ditulis di Bintaro, 14 April 2008
Ditulis ulang di CPR 42, 13 Maret 2010
Tryles Neonnub
(membagi kisah sepanjang jalan)



0 komentar:
Posting Komentar